Cerpen Kompas (Kue Itu Memakan Ayahku)
Kue Itu Memakan Ayahku “Pelan-pelan, aku akan mati karena dimakan sebuah kue.” Itu ayah ucapkan padaku tepat satu minggu setelah ia diangkat menjadi juru potong kue di kantornya. Awalnya aku bingung, kok bisa ayah menjadi juru potong kue, padahal kata ibu, ayah seorang akuntan yang hebat. “Di kantor, kita bisa menjadi apa saja,” terang ayah saat aku mengemukakan kebingunganku. “Kadang-kadang, seorang sarjana ekonomi bisa menjadi tukang ketik surat. Sarjana teknik sipil bisa jadi tukang fotocopy.” Aku ingat persis, ayah tersenyum lebar saat mengucapkan kalimat itu padaku. Aku melipat kening, “Kok, bisa?” Ayah terkekeh. “Lah, namanya saja bekerja, ya tergantung bos butuh tenaga kita sebagai apa.” “Jadi, bos ayah butuh tukang potong kue?” Ayah mengangguk. Aku bergidik. Dalam benakku, bos ayah pasti seseorang bertubuh tambun, mempunyai pipi chubby, bibir tebal, mulut lebar yang tak berhenti mengunyah dan jari-jari tangan pendek nan gemuk. Namun, seminggu setelah itu, khayal...